Senin, 11 Juni 2018

About Indonesian Football

Di mata masyarakat pada umumnya, sepakbola Indonesia identik dengan kerusuhan bahkan kekerasan. Stigma ini telah mendarah daging ke seluruh lapisan masyarakat.

Saya sendiri juga pernah mengalami kebrutalan oknum suporter, singkat cerita ayah saya sedang membawa mobil bak dan saya ikut disampingnya ' saat di perjalanan tiba-tiba mobil dihadang segelintir suporter,ayah saya pun memberhentikan mobil dan memberi tumpangan ke para suporter tersebut. baru beberapa kilometer jalan dan mobil belok ke kiri mereka gedor gedor kaca' mungkin tidak searah jalan pulang mereka' belum sempat mobil berhenti mereka makin brutal dengan menendang kaca. Spontan ayah saya berhenti mendadak dan mengejar. Saya justru takut diam di dalam mobil, kala itu saya masih SD.

  Tapi seiring berjalan nya waktu, justru saya menjadi bagian dari suporter yang saya takuti kala kejadian itu, Ya suporter itu adalah The Jakmania, suporter tim kebanggaan Ibukota. Bahkan saya mendaftar menjadi anggota resmi kalo tidak salah pada tahun 2014 saat saya smk kelas 2, kala itu saya mendaftar di Kordinator Wilayah Pasar Minggu. Namun saat ini masa berlaku kartu anggota saya sudah habis dan belum di perpanjang. 

Saya memang penyuka sepakbola dan kebetulan ayah dan ibu saya orang asli jakarta' dua faktor itu yang membuat saya menjadi pendukung Persija. Persija itu sendiri merupakan tim sepakbola yang berada di Jakarta. Faktor sejarah tim yang jelas juga membuat saya makin bangga dengan Persija.

 Balik ke soal stigma masyarakat pada umunya yang menganggap sepakbola Indonesia itu rusuh dan sejenisnya, itu memang benar. Faktor tidak ada kedewasaan dan terlalu fanatik jadi peran penting, tidak heran banyak kasus kekerasan antar suporter dan pelakunya rata-rata masih ABG. Peran petinggi suporter untuk mengedukasi para anggota khususnya yang masih ABG menjadi penting. Karena jika hal tersebut bisa diminimalisir, bukan tak mungkin prestasi bisa datang. 

  Bicara prestasi tentu sungguh miris bagi persepakbolaan Indonesia, Faktor orang yang ngurus sepakbola dalam hal ini PSSI itu sangat buruk, sarat kepentingan. PSSI seperti ladang basah untuk orang orang keparat. Bukti segelintir pengurus PSSI itu juga rangkap jabatan sebagai pemilik club sepakbola di Indonesia sehingga curiga mencurigai terus terjadi kalangan suporter. Saat pak Edy terpilih sebagai ketum PSSI saya kira dia benar-benar ingin memajukan persepakbolaan Indonesia, tapi nyata nya tidak. Dia maju sebagai cagub di sumut.

  Sudah saatnya PSSI diurus oleh orang orang yang memang benar-benar tulus untuk memajukan persepakbolaan Indonesia. Kalo boleh diperbandingkan, lihat lah bulutangkis Indonesia. Diurus oleh orang-orang yang memang ingin memajukan bulutangkis Indonesia, terbukti prestasi terus datang.
   Saya pribadi masih mempunyai harapan agar sepakbola Indonesia dapat berprestasi. Aamiin...

0 komentar:

Posting Komentar